Hello Minimalisme!

1 minutes, 55 seconds

Minimalisme. Nah coba, apa yang melintas di pikiran kalian waktu denger kata minimalisme pertama kali? Coba saya terka:

  1. Hidup serba irit mendekati bafet
  2. Mengasingkan diri di gunung mencari wangsit
  3. Buangin semua barang selama bukan barang emak kita
  4. And so on …

Yep itu kira – kira yang juga ada di benak saya waktu pertama kali saya dengar kata mimalisme. Jadi ceritanya sekitar beberapa waktu lalu saya diminta tolong sama partner saya @angelinaevelyn untuk beli buku di Amazon Kindle dari Joshua Becker yang judulnya The More of Less: Finding the Life You Want Under Everything You Own. Obviously dari judulnya, ini buku ngebahas tentang manfaat menjadi seorang minimalist.

Awalnya agak enggan baca buku ini karena sudah asumsi negatif dengan kata minim-alis-me ini, tapi berhubung itu buku sudah ada di kindle saya, jadi mulailah saya iseng baca itu buku. Ternyata … ini menjadi salah 1 buku yang mengubah cara saya hidup. Bahkan buku ini sejalan banget dengan buku – buku lain yang saya baca baru – baru ini mengenai value investing.

Dari buku itu ada beberapa mindset baru yang saya adopsi yaitu:

  1. Minimalisme X pelit. Minimalisme berfokus pada value, pada fungsi / kegunaan. Pelit hanya berfokus pada harga. Bahkan seringkali mereka yang menganut faham minimalisme akan memilih membeli barang yang mungkin agak lebih mahal tetapi lebih awet dan ramah lingkungan.
  2. Minimalisme X semedi. Salah 1 mantra yang sering digaungkan oleh The Minimalist Guys (yang detailnya akan di-share di posting lain) adalah love people & use things, not the other way around. Artinya faham minimalisme mendorong kita untuk mengasihi dan menghargai satu sama lain di atas barang – barang yang kita miliki, bukan malah menjauhkan diri.
  3. Minimalisme X takut tidak cukup. Ini salah 1 yang paling penting. Motivasi kita untuk meminimalkan hidup kita bukanlah karena kita khawatir tidak cukup sehingga menjadi sangat irit dan perhitungan. Tetapi motivasi yang benar adalah karena kita tidak mau dibebani terus – menerus oleh barang – barang yang kita beli karena ingin bukan butuh. Kita memeluk gaya hidup minimalis karena kita mau hidup yang lebih bebas dan bermakna.

So buat kalian yang ingin hidup yang lebih bebas, lebih worry-free, lebih bermakna, saya encourage untuk mulai cari tau lebih banyak tentang gaya hidup minimalis ini and stay tuned karena saya akan banyak membahas materi – materi seputar minimalisme dan bagaimana kita bisa adopsi ke dalam hidup kita. Cheers!

Image Source: https://wellinsiders.com

Calvin

Hi, I'm a minimalist (wannabe) & a techpreneur. I teach kids coding @ibigacademy & I also do digital marketing @ibigdigital.